Showing posts sorted by relevance for query model-pembelajaran-contextual-teaching. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query model-pembelajaran-contextual-teaching. Sort by date Show all posts

Friday, 13 September 2019

Jadi Berilmu Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning


Pengertian Model Pembelajaran CTL. Menurut Trianto (2009:107), model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) ialah konsep mencar ilmu yang membantu guru mengaitkan antara bahan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat korelasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning),inkuiri ( inquiry), masyarakat mencar ilmu (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian autentik (autenthic assessment).

Sedangkan berdasarkan Rusman (2012:190), model pembelajaran CTL merupakan suatu model pembelajaran yang memperlihatkan akomodasi kegiatan mencar ilmu siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman mencar ilmu yang lebih bersifat nyata (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan kegiatan siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri.

Berdasarkan kedua pendapat diatas sanggup disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL ialah suatu konsep mencar ilmu yang membantu guru untuk mengaitkan antara bahan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa sehingga memperlihatkan akomodasi mencar ilmu siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman mencar ilmu yang lebih bersifat nyata melalui keterlibatan kegiatan siswa dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual (kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian autentik).

Dengan demikian kiprah guru dalam hal ini ialah membantu siswa mencapai tujuannya dengan cara mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang gres bagi anggota kelas (siswa) (Riyanto, 2010:160)

Prinsip Model Pembelajaran CTL


Menurut Suprijono (2011:80), prinsip – prinsip dalam model pembelajaran CTL antara lain

  • Prinsip Saling Ketergantungan

Prinsip saling ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan ini merupakan suatu sistem, lingkungan mencar ilmu merupakan sistem yang mengintegrasikan banyak sekali komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling menghipnotis secara fungsional. Berdasarkan prinsip itu siswa harus berafiliasi menemukan persoalan, merancang rencana dan mencari pemecahan masalah.Sebab dengan berafiliasi akan membantu siswa mencapai keberhasilan, mengingat setiap siswa memiliki kemampuan berbeda dan unik.

  • Prinsip Diferensiasi

Prinsip diferensiasi merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari realitas kehidupan disekitar siswa. Keanekaragaman tersebut mendorong berpikir kritis siswa untuk menemukan korelasi antara entitas-entitas yang bermacam-macam itu.

  • Prinsip Pengaturan Diri

Prinsip pengaturan diri mendorong pentingnya siswa mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan bahan akademik dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang mengandung prinsip pengaturan diri,siswa mendapatkan tanggung jawab atas keputusan dan sikap mereka sendiri, menentukan alternatif, membuat ,mengembangkan, informasi, dan secara kritis menilai bukti.

Komponen – Komponen Model Pembelajaran CTL


Menurut Riyanto (2010:169), model pembelajaran CTL terdiri dari tujuh komponen yaitu :

  • Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme ialah proses membangun atau menyusun pengetahuan gres dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman (sanjaya, 2011:264). Oleh alasannya ialah itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan permasalahan, menemukan sesuatu yang berkhasiat bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Sehingga dalam dalam proses pembelajaran, siswa sanggup membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses mencar ilmu dan mengajar.

  • Menemukan (inquiry)

Dalam pembelajaran kontekstual pengetahuan dan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Langkah – langkah kegiatan menemukan yaitu merumuskan masalah, mengamati atau melaksanakan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, tabel, atau karya lainnya dan mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, sahabat sekelas guru, atau audiensi yang lain.

  • Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Oleh alasannya ialah itu, dalam proses pembelajaran bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan penggalan penting dalam melaksanakan pembelajaran.

  • Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep learning community menyarankan biar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil mencar ilmu diperoleh dari sharing antar teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat mencar ilmu bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah antara dua kelompok atau lebih. Kelompok yang terlibat dalam masyarakat mencar ilmu memberi warta yang diharapkan oleh sahabat bicaranya dan sekaligus meminta warta yang diharapkan dari sahabat belajarnya.

  • Pemodelan (Modelling)

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, teladan karya tulis, cara melafalkan, atau guru memperlihatkan teladan cara mengejakan sesuatu.

  • Refleksi (Reflection)

Refleksi ialah cara berpikir wacana apa yang gres dipelajari atau berpikir ke belakang wacana apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu.
  • Penilaian Sebenarya (Authentic Assessment)

Assessment ialah proses penyampaian banyak sekali data yang memperlihatkan citra perkembangan mencar ilmu siswa. Gambaran wacana perkembangan mencar ilmu diharapkan sepanjang proses pembelajaran, sehingga assessment tidak dilakukan di simpulan periode pembelajaran menyerupai pada kegiatan penilaian hasil mencar ilmu tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran serta data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dilakukan siswa pada ketika proses pembelajaran.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran CTL


Menurut Putra (2013:257) langkah – langkah model pembelajaran CTL yakni:

  1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan mencar ilmu lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri serta mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegitan inkuiri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar. Hadirkan model sebagai teladan pembelajaran.
  5. Lakukan refleksi di simpulan pertemuan.
  6. Lakukan penilaian yang bekerjsama (anthentic assessment) dengan banyak sekali cara.

Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran CTL


Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Demikian pula dengan model pembelajaran CTL.

  • Kelebihan Model Pembelajaran CTL

Menurut Putra (2013:259) kelebihan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut sanggup menangkap korelasi antara pengalaman mencar ilmu disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting alasannya ialah dengan mengorelasikan bahan yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa bahan itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi bahan yang dipelajarinya akan tertanam akrab dalam memorinya, sehingga tidak gampang dilupakan.
  2. Pembelajaran lebih produktif dan bisa menumbuhkan penguatan konsep pada siswa, alasannya ialah pembelajaran kontekstual menganut aliran konstruktivisme, yakni siswa dituntut menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis Konstruktivisme siswa diharapkan mencar ilmu melalui “mengalami” bukan “menghafal”.
  3. CTL ialah model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
  4. Kelas dalam pembelajaran kontekstual bukan sebagai daerah untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai daerah untu menguji data hasil temuan di lapangan.
  5. Materi pelajaran sanggup ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil derma guru.
  • Kelemahan Model Pembelajaran CTL

Menurut Putra (2013:259) kelemahan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Diperlukan waktu yang cukup usang ketika proses pembelajaran CTL berlangsung.
  2. Jika guru tidak sanggup mengendalikan kelas, maka membuat suasana kelas yang kurang kondusif.
  3. Guru lebih intensif dalam membimbing. Sebab, dalam model CTL, guru tidak lagi berperan sebagai sentra informasi. Tugas guru ialah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang berafiliasi untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
  4. Guru memperlihatkan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide serta mengajak siswa biar memakai strateginya sendiri dalam belajar. Namun, dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa biar tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diterapkan semula.
  • Upaya Mengatasi Kelemahan Model Pembelajaran CTL

Menurut penulis, upaya untuk mengatasi kelemahan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Rencanakan proses pembelajaran CTL dengan baik, biar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan waktu yang disediakan bisa dimaksimalkan.
  2. Guru harus bersikap tegas untuk membuat suasana yang aman dalam melaksanakan proses pembelajaran CTL.
  3. Dalam pembentukan tim/kelompok, bentuk kelompok hidrogen(pandai, kurang pandai, cepat dan lambat memberi tanggapan).
  4. Upayakan siswa sudah mengerti bahan yang sedang dipelajari dan paham akan langkah model CTL yang diterapkan.

Referensi/Pustaka :
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning dan Aplikasi Paikem. Surabaya : Pustaka Pelajar.
Trianto. 2007. Model - Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Monday, 12 August 2019

Jadi Bakir Skripsi Pembelajaran Contextual Teaching Dan Think Pair Share


Skripsi perbandingan hasil berguru siswa yang diajar dengan model pembelajaran contextual teaching and learning (ctl) dan model pembelajaran think pair share (tps) pada pokok bahasan faktorisasi suku aljabar.

skripsi ini komplit dengan lampiran sebagai berikut:
  1. RPP aljabar
  2. kisi-kisi soal
  3. instrumen tes soal
  4. dokumentasi penelitian
  5. analisis validitas
  6. analisis reabilitas
  7. analisis tingkat kesukaan
  8. analisis daya beda
  9. tabel produk momen
  10. tabel chi kwadrat
  11. surat keterangan uji coba instrumen
  12. surat keterangan penelitian
  13. berita acara

Manfaat penelitian ini:

  1. Bagi Kepala Sekolah; Hasil penelitian sanggup dijadikan sebagai materi pertimbangan dalam upaya meningkatkan kualitas berguru mengajar khususnya pada bidang studi matematika.
  2. Bagi Guru Bidang Studi Matematika; Hasil penelitian sanggup dijadikan sebagai alternatif dalam mengunakan model pembelajaran yang sanggup dipakai oleh guru pada bidang studi matematika.
  3. Bagi Peneliti Sebagai Calon Guru; Hasil penelitian sanggup dijadikan sebagai salah satu media untuk memperluas wawasan perihal disiplin ilmu yang ditekuni serta sebagai bekal untuk terjun ke dunia pendidikan.
  4. Bagi Universitas; Menambah koleksi acuan di lingkungan Universitas Madura pada umunya dan FKIP pada khususnya serta hasil penelitian ini dijadikan dasar pemikiran untuk melaksanakan penelitian berikutnya.

Skripsi Pembelajaran Contextual Teaching dan Think Pair Share

Semoga sanggup membantu dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Amin...

Sunday, 10 February 2019

Jadi Arif Macam-Macam Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan


Model-model pembelajaran yang sanggup melatih kemampuan belajar, di antaranya yaitu model pembelajaran berbasis duduk kasus (problem-based learning), pembelajaran berbasis projek (project-based learning), pembelajaran kontekstual (contextual learning), pembelajaran inovasi terbimbing (guided discov ery learning), hingga pada pembelajaran individual (individual learning).

Dalam pembelajaran PJOK sendiri terdapat beberapa model pembelajaran yang sudah dikembangkan. Beberapa di antaranya yaitu model pendidikan gerak (movement education), model pengembangan tanggung jawab (teaching personal and social responsbility / Hellison's model), model pendidikan petualangan (adventure education model), model kebugaran (fitness education model), model perkembangan (developmental model), bahkan termasuk model Teaching Games for Understanding (TGfU model) serta model pembelajaran kooperatif (cooperative learning model).

Berikut beberapa model pembelajaran yang sanggup menginspirasi:

1. Model Pembelajaran Penemuan (Inquiry Learning)


Contoh tahapan model pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, d an Kesehatan dengan model ini adalah:

Pendahuluan

  • Siswa mempersiapkan per alatan yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  • Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum dimulai pembelajaran.


Inti

  • Siswa melaksanakan gerakan senam irama sesuai dengan isyarat guru sebelum pembelajaran 
  • Guru membuka dan menjelaskan pembelajaran senam irama bagi kesehatan dan kebugaran 
  • Siswa melaksanakan gerakan senam irama sesuai dengan klarifikasi guru secara i ndividu maupun kelompok, dan memberikan arti penting kerjasama dalam gerak senam 
  • Seluruh gerakan senam irama siswa diawasi dan diberikan koreksi oleh guru apabila ada kesalahan 
  • Siswa secara individu dan atau kelompok melaksanakan gerakan senam irama dengan memperlihatkan perilaku kerjasama sesuai dengan koreksi oleh 
  • Guru mengamati seluruh aktifitas siswa dalam melaksanakan gerakan senam irama secara seksama.

Penutup

  • Guru memberikan tingkat pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa, memberikan siswa yang mendapat hasil yang terbaik, dan memperlihatkan motivasi pada yang belum.
  • Siswa merapi kan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.
  • Berdoa bersama.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL)


Contoh tahapan model pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, d an Kesehatan dengan model ini adalah:

Pendahuluan

  • Siswa mempersiapkan perlalatan yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  • Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum dimulai pembelajaran.

  • Siswa diminta untuk mempersiapkan pertanyaan gerakan - gerakan yang tidak mampu.

Inti

  • Siswa melaksanakan gerakan senam irama yang tidak bisa dilakukan pada ketika gerakan.
  • Guru mengamati seluruh gerakan senam irama siswa secara individu maupun kelompok.
  • Seluruh gerakan senam irama siswa diawasi dan diberikan koreksi oleh guru apabila ada kesalahan g erakan.
  • Siswa secara individu dan atau kelompok melaksanakan gerakan senam irama sesuai dengan koreksi oleh guru.
  • Seluruh gerakan siswa sehabis diberikan umpan balik diamati oleh guru secara individu maupun kelompok.
  • Siswa melaksanakan gerakan senam irama secara individu secara bergantian.

Penutup

  • Secara klasikal siswa diberikan penghargaan dan motivasi menurut hasil penilaian.
  • Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan
  • Berdoa bersama.

3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)


Contoh tahapan model pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan dengan model ini adalah:

Pendahuluan

  • Siswa mempersiapkan perlalatan yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  • Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum dimulai pembelajaran
  • Siswa dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan teknik gerakan, misalnya: teknik bermain sepakbola maka siswa dibagi menjadi kelompok mengoper, menggiring, menendang, menangkap bola, melempar ke dalam.

Inti

  • Siswa melaksanakan gerakan teknik sepakbola sesuai dengan pembagian kelompok isyarat gu ru sebelum pembelajaran dimulai
  • Guru menjelaskan keterkaitannya teknik sepakbola bagi kebugaran jasmani
  • Siswa yang mempunyai keterampilan lebih baik sanggup dijadikan sebagai perantara bagi siswa lain dalam kelom pok tersebut.
  • Secara kelompok siswa berganti daerah untuk mempelajari gerakan teknik yang berbeda dari kelompok asal.
  • Seluruh gerakan teknik sepakbola diawasi dan diberikan koreksi oleh guru apabila ada kesalahan gerakan.
  • Siswa secara individu dan atau kelompok melaksanakan gerakan teknik sepakbola sesuai dengan koreksi oleh guru.

Penutup

  • Secara klasikal siswa diberikan penghargaan dan motivasi menurut hasil penilaian.
  • Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.
  • Berdoa bersama.

Saturday, 10 August 2019

Jadi Pintar Macam Dan Jenis Model Pembelajaran Dan Pengertiannya


Model Pembelajaran merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang dipakai untuk memotivasi siswa untuk lebih semangat mencar ilmu dan menggali kemampuannya. Maka seorang guru tidak hanya dituntut mengajar dan menguasai materi pembelajaran, tapi juga bisa menguasai dituntut untuk bisa memahami metode atau model apa saja yang akan diterapkan pada siswa dalam setiap pertemuan.

Oleh sebab itu akan membagikan Macam dan Jenis Model Pembelajaran beserta Pengertiannya masing-masing.

Examples Non Examples


Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi materi didik dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok wacana menu gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi. Examples Non Examples ialah metode mencar ilmu yang memakai contoh.

Cooperative Script


Metode mencar ilmu dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara mulut mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari (Danserau cs., 1985).

Problem Based Indtroduction (PBI)


Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Kehidupan ialah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menuntaskan kasus yang berorientasi pada kasus otentik dari kehidupan faktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap harus dipelihara ialah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan biar siswa dap[at berpikir optimal. Indikator model pembelajaran ini ialah metakognitif, klarifikasi terperinci (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri.

Make a Match


Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapat sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu tanggapan yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk rino berikutnya pembelaarn ibarat babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

Picture and Picture


Sajian informasi kompetensi, menu materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi materi ajar, penyimpulan, penilaian dan refleksi.

Explicit Instruction


Pembelajaran pribadi khusus dirancang untuk mengembangkan cara mencar ilmu penerima didik wacana pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang sanggup diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah

Inside-Outside-Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar)


IOC ialah mode pembelajaran dengan sistim bundar kecil dan bundar besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada dikala yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.

Tari Bambu


Model pembelajaran ini menawarkan kesempatan kepada siswa untuk membuatkan informasi pada dikala yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk materi didik yang memerlukan pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar siswa.

Koperatif (CL, Cooperative Learning)


Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah insan sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, memiliki tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, mencar ilmu berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling membuatkan (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab.

Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)


Pembelajaran kontekstual ialah pembelajaran yang dimulai dengan menu atau tanya jawab mulut (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi mencar ilmu muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi aman - nyaman dan menyenangkan.

Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)


Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, hukum uantuk dipakai dalam menuntaskan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).

SAVI


Pembelajaran SAVI ialah pembelajaran yang menekankan bahwa mencar ilmu haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri ialah singkatan dari:

  • Somatic yang bermakna gerakan badan (hands-on, kegiatan fisik) di mana mencar ilmu dengan mengalami dan melakukan;
  • Auditory yang bermakna bahwa mencar ilmu haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi;
  • Visualization yang bermakna mencar ilmu haruslah memakai indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, memakai media dan alat peraga;
  • Intellectualy yang bermakna bahawa mencar ilmu haruslah memakai kemampuan berpikir (minds-on) mencar ilmu haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

TGT (Teams Games Tournament)


Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, kiprah tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi

Word Square


Model Pembelajaran Word Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan tanggapan pada kotak-kotak jawaban. Mirip ibarat mengisi Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak komplemen dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran. Tinggal bagaimana Guru sanggup memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang sanggup merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih perilaku teliti dan kritis.

Time Token


Model ini dipakai (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial biar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau membisu sama sekali. Langkahnya ialah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon materi percakapan (1 menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) menurut materi pada kupon, sesudah tamat kupon dikembalikan

Keliling Kelompok


Maksudnya biar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk menawarkan bantuan mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya.

Itulah artikel membuatkan wacana Macam dan Jenis Model Pembelajaran dan Pengertiannya. Semoga bermanfaat...

Friday, 13 September 2019

Jadi Arif Perbedaan Model Contextual Teaching And Learning Dan Think Pair Share


Perbedaan Model Contextual Teaching and Learning dan Think Pair Share. Untuk lebih gampang mengetahui perbedaan model pembelajaran CTL dengan model pembelajaran TPS berdasarkan beberapa sumber.

aku jelaskan dalam bentuk tabel berikut ini.

Perbedaan Model Pembelajaran CTL Dengan Model Pembelajaran TPS


NO.CTLTPS
1.Pengajaran atau dalam proses KBM siswa dikaitkan pribadi dengan pemasalahan atau konteks kehidupan nyataPengajaran atau dalam proses KBM tidak harus permasalahan kehidupan sehari-hari
2.Jumlah siswa yang ganjil tidak berdampak pada pembentukan kelompokJumlah siswa yang ganjil berdampak pada pembentukan kelompok atau pasangan
3.Dalam setiap kelompok tidak dibatasi jumlah anggotanya atau lebih dari 2 orangDalam setiap kelompok dibatasi hanya 2 orang (berpasangan) anggotanya
4.Pembagian kelompok secara hidrogen (pandai, kurang pandai, cepat dan lambat memberi tanggapan)Pembagian kelompok atau pasangan secara acak
5.Lebih usang membentuk kelompoknyaLebih cepat membentuk kelompoknya
6.Jika ada perselisihan dalam kelompok masih ada penengah sebab jumlah anggotanya lebih dari 2 orangJika ada perselisihan dalam kelompok tidak ada penengah sebab hanya terdiri dari 2 orang
7.Lebih sedikit kelompok yang terbentukLebih banyak kelompok yang terbentuk
8.Setelah diberikan permasalahan siswa pribadi membentuk kelompok dan mendiskusikan tanggapan dari permasalahan tersebutSetelah diberikan permasalahan siswa masih diminta memikirkan tanggapan dari permasalahan tersebut selanjutnya membentuk kelompok dan mendikusikan hasil pemikirannya dengan kelompok atau pasangannya

Referensi/Pustaka:
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Renika Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineka Cipta.
Lie, Anita. 2002. Cooperatif Learning. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sunday, 11 August 2019

Jadi Terpelajar 40 Model Pembelajaran Lengkap Menarik Dan Kreatif Format Pdf


Jika anda seorang guru, tentu akan melakaukan segala macam cara untuk memotivasi siswa dalam berguru dengan memakai banyak sekali metode atau model pembelajaran. Sahabat tinggal pilih salah satu, model apa yang cocok untuk diterapkan di sekolah, baik itu SD MI, Mts SMP, Sekolah Menengan Atas MA, dan lainnya yang sederajat.

Namun untuk tingkat PAUD RA Taman Kanak-kanak maupun KB, silahkan simak artikel Kumpulan perangkat dan metode berguru PAUD Taman Kanak-kanak RA. Atau anda dapat pribadi menuju ke halaman khusus PAUD ini.

40 Model Pembelajaran Lengkap Menarik dan Kreatif Format PDF ini sebagai berikut:


Examples Non Examples, Numbered Heads Together, Cooperative Script, Kepala Bernomor Struktur, Student Teams Achievement – Divisions (STAD), Jigsaw, Problem Based Indtroduction (PBI), Artikulasi, Mind Mapping, Make a Match, Pair and Share (Frank Lyman, 1985), Debate, Role Playing, Group Investigation (Sharan, 1992), Talking Stick, Bertukar Pasangan, Snowball Throwing, Student Facilitator and Explaining, Course Review Horay, Demonstration, Mind Mapping, Picture and Picture, Explicit Instruction, Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC), Inside-Outside-Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar), Tebak Kata, Tari Bambu, Koperatif (CL, Cooperative Learning), Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning), Realistik (RME, Realistic Mathematics Education), SAVI, TGT (Teams Games Tournament), Word Square, Scramble, Take and Give, Concept Sentence, Complete Sentence, Time Token, Keliling Kelompok, Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray)

Demikian artikel dari ihwal 40 Model Pembelajaran Lengkap Menarik dan Kreatif yang dibentuk dalam bentuk Format PDF yang dapat anda download pada link berikut ini:

40 Model Pembelajaran Lengkap Menarik dan Kreatif Format PDF

Semoga dapat membantu dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Amin...

Monday, 18 November 2019

Lebih Bakir Pembelajaran Yang Baik Di Sd (Sekolah Dasar), Pengirim : Ulfa Fadilah

Sebagai mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, kami membuat goresan pena ini bertujuan untuk meningkatkan dan membuatkan mutu pembelajaran yang ada di sekolah dasar. Karena pendidikan sekolah dasar merupakan kunci kemajuan dan perkembangan suatu bangsa. Untuk membuat belum dewasa yang cerdas di perlukan pembelajaran yang optimal dalam setiap harinya. Dalam artikel ini kami akan membahas wacana bagaimana pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan bagi penerima didik.

Pembelajaran yaitu proses interaksi penerima didik dengan pendidik dan sumber berguru pada suatu lingkungan belajar. Lingkungan berguru merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur tujuan, materi pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru. Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi, dan semua berfungsi dengan berorientasi pada tujuan ( Anitah. S. Dkk, 2009: 1.18).

Dalam dunia pendidikan sanggup kita ketahui bahwa dalam acara berguru mengajar terdapat interaksi antara pendidik dan penerima didik. Interaksi tersebut terjadi dalam lingkungan pendidikan, sehingga lingkungan pendidikan harus di rancang dan di desain suapaya menyenangkan supaya berguru berlangsung secara efektif. Dalam proses pembelajaran juga membutuhkan alat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikannya. Penggunaan alat peraga yang sempurna akan membuat berguru lebih efektif dan tujuan akan tercapai secara optimal.

Menurut Mulyatiningtias (2010: 2), Paikem merupakan kependekan dari pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Model pembelajaran ini menggambarkan keseluruhan proses berguru mengajar yang berlangsung menyenangkan dengan melibatkan penerima didik untuk berpartisipasi secara aktif selama proses pembelajaran. Pembelajaran aktif yaitu segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan penerima didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar penerima didik maupun penerima didik dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang bersifat student centered, maksudnya disini yaitu pembelajaran yang menawarkan peluang kepada penerima didik untuk mengkontruksi pengetahuan secara berdikari (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated intuction).


Pembelajaran inovatif mendasarkan diri pada paradigma konstruktivistik yang membantu penerima didik untuk menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentrasformasi isu gres (Oentoro, 2010).Pembelajaran kreatifadalah pproses pembelajaran yang mengharuskan guru sanggup memotivasi dan memunculkan kreatifitas penerima didik selama proses pembelajaran berlangsung, dengan memakai beberapa metode dan seni administrasi yang variatif, contohnya kerja kelompok, pemecahan duduk kasus dan sebagainya.Pembelajaran efektif merupakan suatu proses berguru mengajar yang bukan hanya terpokus pada hasil yang dicapai penerima didik, namun bagaimana proses pembelajaran efektif bisa menawarkan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta sanggup menawarkan perubahan sikap dan mengaplikasikannya dalam kehidupan penerima didik tersebut.Pembelajaran menyenangkan yaitu suatu pembelajaran di kelas maupun di luar kelas dengan memakai metode pembelajaran yang sanggup menarik perhatian siswa, mengasikan, menjadi siswa yang tertantang untuk lebih mendalami materi pelajaran, menumbuhkan kreatifitas, sehingga siswa lebih semangat dalam berguru dan hasil belajarnya meningkat.

Menurut Mulyatiningtias (2010: 4), Model PAIKEM banyak memakai seni administrasi pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning yang merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situsi dunia kasatmata penerima didik dan mendorong penerima didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Model PAIKEM menuntut guru untuk kreatif, memakai banyak sekali alat, media pembelajaran dan sumber belajar. Supaya guru mempunyai wawasan luas wacana metode pembelajaran yang mendukung penerima didik untuk aktif dalam proses pembelajaran.

Tujuan pembelajaran berbasis PAIKEM  adalah untuk membantu siswa dalam membuatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi, berpikir kritis dan berfikir kreatif. Berfikir kritis yaitu suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumi dan pencarian ilmiah. Berfikir kreatif yaitu suatu acara mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam membuatkan sesuatu. Kemampuan memecahkan duduk kasus merupakan kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Dari paparan-paparan di atas sanggup kita ketahui bahwa, secara garis besar PAIKEM sanggup digambarkan sebagai berikut:

1.   Siswa terlibat dalam banyak sekali acara pembelajaran.
2.   Guru memakai banyak sekali alat bantu dan banyak sekali cara dalam membangkitkan semangat berguru siswa.
3.   Guru mengatur kelas dengan lebih menarik.
4.   Guru menerapkan cara mengajar yang lebih variatif.
5.   Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memecahkan masalah, mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam membuat lingkungan sekolah.

Penerapan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan di SD perlu adanya kemampuan guru dalam merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Dalam acara berguru mengajar contohnya guru melaksanakan bermacam-macam acara dalam KBM misalnya, acara diskusi, percobaan, memecahkan masalah, mencari informasi, menulis laporan, berkunjung dan lain sebagainya.

Selanjutnya, guru harus memakai alat bantu dan sumber yang bermacam-macam misalnya, alat yang tersedia atau yang dibentuk sendiri, gambar, studi kasus, narasumber, lingkungan dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran.Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk membuatkan keterampilan misalnya, siswa melaksanakan percobaan, pengamatan, atau wawaancara, menarik kesimpulan, memecahkan masalah, mencari rumus sendiri dan lain sebagainya. Guru menyesuaikan materi dan acara berguru dengan kemampuan siswa misalnya, siswa dikelompokan sesuai dengan kemampuan (untuk acara tertentu), siswa diberi kiprah perbaikan atau pengayaan.Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman sehari-hari siswa misalnya, siswa memanfaatkan atau menceritakan pengalamannya sendiri, siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam acara sehari-hari. Yang terahir dalam proses KBM guru harus menilai dan memantau kemajuan berguru siswa secara terus menerus misalnya, guru memantau kerja siswa dan guru menawarkan umpan balik kepada siswa.

Dari paparan ia atas penulis menawarkan saran kepada pembaca khususnya guru dan calon guru untuk selalu sanggup membuat acara pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan setiap proses berguru mengajar berlangsung. Dalam pembelajaran paikem guru hanya menyajikan materi atau materi dalam garis besarnya saja dan kemudian memberi peluang kepada anak didik untuk mencari kemudian menemukan sendiri. Praktis bukan, tetapi tidak lepas dari kita harus membimbing dan memantaunya. Karena pendidik merupakan faktor utama kemajuan bangsa dan negara.

Referensi :

Anitah. S. (2009). Strategi Pembelajaran. Jakarta. Universitas Terbuka
Marinta, D. F., Khutobah., dan Marjono. (2014). Jurnal Edukasi: Penerapan Model Pembelajan PAIKEM Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Bidang Studi IPS Pada Pokok Bahasan Jenis Dan Persebaran SDA Serta Pemanfaatannya Di SDN Tempursari 1 Tahun Pelajaran 2012/2013. Dikutip dari /search?q=cara-mempublikasikan-menerbitkan-karya" target="_blank">Cara Mempublikasikan / Menerbitkan Karya Tulis Gratis Secara Online di www.salamedukasi.com