Sahabat Edukasi yang berbahagia... Guru sebagai tenaga profesional mempunyai kiprah strategis untuk mewujudkan visi penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip profesionalitas, sehingga untuk mewujudkan profesionalitas guru perlu perbaikan tata kelola guru, di samping itu mengingat bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 perihal Guru perlu adaptasi untuk mengakomodasi perkembangan tata kelola guru sebagai pendidik profesional sehingga perlu diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 ini.
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 perihal Guru (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 49411 diubah salah satunya yaitu dalam Ketentuan Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
·Guru yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan -mengevaluasi akseptor didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
·Kualifikasi Akademik yaitu ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh Guru sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan.
·Sertifikasi yaitu proses donasi akta pendidik untuk Guru.
·Sertifikat Pendidik yaitu bukti formal sebagai ratifikasi yang diberikan kepada Guru sebagai tenaga profesional.
·Gaji yaitu hak yang diterima oleh Guru atas pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk finansial secara terpola sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
·Tunjangan Profesi yaitu tunjangan yang diberikan kepada Guru yang mempunyai Sertifikat Pendidik sebagai penghargaan atas profesionalitasnya.
·Organisasi Profesi Guru yaitu perkumpulan yang berbadan aturan yang didirikan dan diurus oleh Guru untuk menyebarkan profesionalitas Guru.
·Perjanjian Kerja atau Kesepakatan Kerja Bersama yaitu perjanjian tertulis antara Guru dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang memuat syarat-syarat kerja serta hak dan kewajiban para pihak dengan prinsip kesetaraan dan kesejawatan menurut peraturan perundang-undangan.
·Guru Tetap yaitu Guru yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian atau diangkat oleh pimpinan penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat menurut perjanjian kerja dan telah bertugas untuk jangka waktu paling singkat 2 (dua) tahun secara terus menerus serta tercatat pada satuan manajemen pangkal di satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau masyarakat.
·Guru Dalam Jabatan yaitu Guru pegawai negeri sipil dan Guru bukan pegawai negeri sipil yang sudah mengajar pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat penyelenggara pendidikan yang sudah mempunyai Perjanjian Kerja atau Kesepakatan Kerja Bersama.
·Pemutusan Hubungan Kerja atau Pemberhentian Kerja yaitu pengakhiran perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama Guru alasannya suatu hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara Guru dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan diberlakukannya PP 19 Tahun 2017 Tentang PP 74 Tahun 2008 Tentang Guru terdapat beberapa perubahan yang mendasar terkait aturan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Beberapa perubahan sesuai PP 19 Tahun 2017 Tentang PP 74 Tahun 2008 Tentang Guru antara lain: Terkait Beban Kerja Guru PNS minimal 24 jam maksimal 40 Jam; Terkait Tugas pokok dan Fungsi Kepala Sekolah tidak perlu mengajar; Dalam hal Guru diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan, akan diberikan tunjangan profesi pengawas satuan pendidikan dan tidak diberikan Tunjangan Profesi.
Pemindahan Guru yang diangkat oleh Pemerintah Pusat atau Pemda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesudah Guru yang bersangkutan bertugas pada satuan pendidikan paling singkat selama 4 (empat) tahun, kecuali Guru yang bertugas di Daerah Khusus.
Tantangan yang dihadapi ke depan yaitu dalam pelaksanaan tata kelola pendidik dan tenaga kependidikan antara lain mencakup : Ketersediaan Guru dan tenaga kependidikan yang merata, dengan cara meningkatkan perencanaan kebutuhan, penyediaan, pengangkatan, distribusi, dan pemerataan pendidik dan tenaga kependidikan; meningkatkan kapasitas tempat dalam mengelola perekrutan, penempatan, dan peningkatan mutu Guru secara efektif dan efisien; mengawasi proses pengangkatan Guru di tempat menurut kriteria mutu dan kebutuhan wilayah; serta meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pendidikan oleh LPTK dengan planning penyediaan Guru di daerah.
Pembinaan Guru dan tenaga kependidikan, dengan cara meningkatkan kualifikasi Guru dan tenaga kependidikan; memperkuat sistem uji kompetensi Guru, dan mengitegrasikan dengan sistem Sertifikasi; menerapkan sistem penilaian kinerja Guru yang sahih, andal, transparan, dan berkesinambungan; meningkatkan kompetensi Guru secara berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan; menyelaraskan kurikulum pendidikan dan training Guru dan tenaga kependidikan dengan kebutuhan akseptor didik, dunia kerja, dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI); memperkuat fungsi penjaminan mutu pendidikan di tingkat sentra dan daerah;a (KKPS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS); memperbaiki sistem penyaluran Tunjangan Profesi; dan memperbaiki sistem karir, penghargaan, dan proteksi Guru dan tenaga kependidikan (Ref : http://lpmplampung.kemdikbud.go.id/detailpost/pp-19-tahun-2017-tentang-perubahan-pp-74-tahun-2008-tentang-guru).
Berikut salinan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 perihal Perubahan Atas Peraturan Nomor 74 Tahun 2008 perihal Guru:
Download file salinan PP No. 19 Tahun 2017 perihal Perubahan Atas Peraturan Nomor 74 Tahun 2008 perihal Guru silahkan klik pada links berikut. Semoga bermanfaat dan terimakasih... ...!
Visi Misi dan Pengembangan Kurikulum RA. Masa usia dini merupakan usia emas pertumbuhan dan perkembangan (golden age) alasannya yaitu perkembangan banyak sekali aspek psiko-fisik yang terjadi pada masa ini akan menjadi peletak dasar sangat fuindamental. Artinya, perkembangan aspek psiko-fisik pada masa usia dini akan menjadi dasar peletak bagi perkembangan selanjutnya. Pada masa ini perkembangan otak anak mengalami peningkatan yang sangat pesat, oleh alasannya yaitu itu pendidikan anak usia dini merupakan dasar bagi perkembangan masa berikutnya, serta merupakan tahap pembinaan awal menuju terbinanya kualitas sumber daya insan Indonesia yang mempunyai daya saing tinggi di kurun globalisasi ini.
Pertumbuhan dan perkembangan anak akan tercapai secara optimal, apabila diciptakan situasi dan kondisi yang aman sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga layanan pendidikan yang diberikan harus memperhatikan keberagaman budaya, agama, kondisi alam dan pola kehidupan sehari-hari anak. Selain itu, sangat perlu diperhatikan kodrat anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius. Oleh lantaran itu pengembangan anak usia dini berorientasi pada pendekatan berpusat pada anak (student centered).
Pendidikan di Raudlatul Athfal bertujuan untuk menyebarkan sikap, pengetahuan, ketrampilan, daya cipta dan hati nurani anak didik dalam merespon dan mengikuti keadaan dengan lingkungannya menurut pemikiran dan nilai-nilai Islam. Untuk itu pelayanan pendidikan di Raudlatul Athfal harus sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah dengan berlandaskan pemikiran nilai-nilai Islam.
Kurikulum yaitu seperangkat planning dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan materi pelajaran serta cara yang dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Hal ini lantaran kurikulum secara umum didefinisikan Raudlatul Athfal mengacu pada pemikiran dan nilai-nilai Islam serta filosofi pendidikan anak sebagai landasan berpikir dalam penetapan tujuan, pemilihan materi untuk anak, kegiatan dan suasana berlajar di dalam dan di luar kelas, seni administrasi pembelajaran, pengelolaan kelas, media, sarana da prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara pengelolaan kelas, media, sarana prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara para guru, orang renta dan masyarakat sekitar sekolah.
Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keagamaan multipotensi, minat, multi kecerdasan (kecerdasan majemuk), emosional, spiritual dan kinestetik atau fisik-motorik anak didik secara optimal sesuai dengan keunikan dan tahap perkembangan setiap anak. Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bab penting dalam proses pendidikan. Pengambanagn kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan yaitu untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Sejalan dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 14 bahwa pendidikan anak usia dini yaitu suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 tahun yang dilakukan mulai rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani biar anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Berdasarkan undang-undang tersebut, maka pendidikan anak usia dini merupakan masa penting, lantaran awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam menunjukkan dorongan atau upaya pengembangan biar anak sanggup berkembang secara optimal. Apa yang dialami anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya akan berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang.
Oleh lantaran itu pada masa-masa usia dini perlu dilakukan upaya pendidikan yang meliputi upaya stimulasi, bimbingan, pengasuhan, pendampingan dan donasi kegiatan pembelajaran untuk menyebarkan banyak sekali potensi yang dilakukan anak melalui pengembangan kurikulum.
Kurikulum Raudlatul Athfal ini merupakan pembagian terstruktur mengenai dari idelalisme, cita-cita, tuntutan stakeholders, atau kebutuhan-kebutuhan tertentu. Melalui kurikulum ini akan diketahui arah pendidikan, alternatif pendidikan, fungsi pendidikan serta hasil pendiidkan yang hendak dicapai oleh Raudlatul Athfal. Kurikulum ini harus dijadikan pedoman bagi pengelola dan guru RA untuk selanjutnya disempurnakan secara terus-menerus melalui tahapan pengkajian, sosialisasi, advokasi, perintisan oleh tim pengembang kurikulum yang terdiri dari unsur kepala Raudlatul Athfal, guru/ praktisi, komite Raudlatul Athfal, penyelenggara pendidikan, Mapenda Departemen Agama kota/kabupaten dan nara sumber.
Dengan demikian, kurikulum ini bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan budaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.
Menghadapi kondisi tersebut Raudlatul Athfal perlu mempersiapkan diri secara mantap dengan menciptakan Rencana Kerja Raudhatul Athfal (RKRA) untuk memenuhi tuntutan perkembangan kurikulum Raudlotul Athfal yang sesuai dengan kondisi, potensi dan karakteristik Raudlatul Athfal dengan model KTSP yang mengacu pada standar pencapaian perkembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tahun 2004.
Kurikulum Raudlatul Athfal dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi, potensi dan karakteristik masyarakat religius dengan lebih banyak didominasi agraris (petani), wiraswasta serta kondisi masyarakat desa Kudar dan aspirasinya terhadap dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) cukup bagus. Pola pendidikan yang dikembangkan di Raudlatul Athfal. Keberhasilan pendidikan di Raudlatul Athfal kepercayaan masyarakat terhadap Raudlatul Athfal.
Raudlatul Athfal telah melaksanakan “kurikulum 2004” namun tahun 2006 diharapkan melaksanakan KTSP. Oleh lantaran itu pada tahun 2015 Tim Pengembang Kurikulum IGRA bersama kepala RA, Guru, yayasan/komite Kementrian Agama Kabupaten Pamekasan berkejasama dengan tim jago dari LKP2-I telah menyusun dan menyebarkan kurikulumnya sendiri dengan mengacu pada UU No.23 tahun 2002 perihal proteksi anak, Undang-undang No.20 tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional, PP No.19 tahun 2005 perihal Standar Nasional Pendidikan, Pemendiknas no 58 tahun 2009 perihal Standar Pendidikan Anaka Usia Dini serta berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan yang dikeluarkan oleh BSSP serta pedoman penyusunan dan implementasi KTSP RA yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Agama Jawa Timur. Kurikulum Raudlatul Athfal ini akan diimplemtasikan pada tahun 2009.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Raudlatul Athfal dinyatakan tercapai apabila kegiatan mencar ilmu bisa mencapai perkembangan penerima didik secara optimal proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik biar sanggup diterima untuk; (1) memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global; (2) mempersiapkan penerima didik dalam menghadapi perkembangan dunia global; dan (3) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan/atau menyebarkan ketrampilan untuk hidup mandiri.
Untuk menjamin keberhasilan implemntasi kurikulum RA tersebut, dibutuhkan banyak sekali persyaratan, antara lain:
Dukungan semua pemangku kepentingan pendidikan (Stakeholders);
Sosialisasi, pelatihan, diskusi dan lokakarya KTSP;
Pemenuhan dokumen yang dibutuhkan untuk penyusunan KTSP;
Pengembangan sumberdaya insan secara berkelanjutan;
Koordinasi dan pengelolaan yang profesional;
Perluasan kerjsama yang baik dengan banyak sekali pihak;
Semua pihak perlu: (a) memahami KTSP; (b) mempunyai dokumen pendukung;(c) mempunyai kesepakatan untuk berkembang dan maju secara bersama-sama; serta (d) bisa dan mau melaksanakannnya secara baik.
Kurikulum ini harus dijadikan prdoman bagi pengelola dan guru Raudlatul Athfal untuk seanjutnya disempurnakan secara terus-menerus. Dengan demikian, Kurikulum Raudlatul Athfal akan bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan berbudaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.
A. Visi, Misi dan Tujuan RA
1. Visi Raudlatul Athfal Mencetak generasi mandiri, kreatif, inovatif, beriman mantap, berwawasan luas dan berakhlak karimah serta unggul dalam prestasi.
Terbiasa melaksanakan kegiatan sendiri dan mempunyai rasa percaya diri
Mampu berkreasi dan selalu mengadakan perubahan ke arah perbaikan atas kreatifitasnya.
Teguh keyakinan terhadap Sang Maha Pencipta dan terbiasa mendirikan sholat lima waktu
Memiliki wawasan luas dari pengalaman belajar
Terbiasa berperilaku baik, benar dan sopan
Terbiasa berkomunikasi dengan bahasa yang santun
Mampu baca tulis arab dan latin serta berhitung
Mampu dalam menghafal surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari
2. Misi Raudlatul Athfal
Membiasakan anak melaksanakan kegiatan sendiri
Memberikan materi yang sesuai dengan pemikiran agama Islam
Menyelenggarakan rutinitas kegiatan yang sanggup melatih kreatifitas anak
Melatih baca tulis Al-Qur’an dan baca tulis latin serta berhitung
Melatih Pembiasaan sikap mental yang disiplin, sopan dan menghormati orang lain.
B. Tujuan Raudlatul Athfal
1. Tujuan Umum Raudlatul Athfal Tujuan umum dirumuskan dengan mengacu kepada tujuan umum pendidikan RA, yaitu:
Membangun landasan bagi berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggungjawab.
Mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial penerima didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
Membantu anak didik menyebarkan banyak sekali potensi baik piskis maupun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikam dasar.
2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dirumuskan sesuai dengan tujuan Raudlatul Athfal itu sendiri
Mewujudkan sikap anak yang mandiri, kreatif, inovatif sesuai dengan pemikiran agama Islam.
Menyediakan alat peraga edukatif yang menarik dan memadai
Meningkatnya prestasi dan bisa bersaing di Tingkat Nasional
Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana/prasarana serta pemberdayaan-nya yang mendukung peningkatan prestasi siswa
Terwujudnya ruang bermain yang lebih luas
Tersedianya ruang guru yang bisa menampung semua guru
Terwujudnya aula masrasah yang representatif
C. Tujuan Pengembangan KTSP
Tujuan penyusunan KTSP ini untuk dijadikan pola bagi Satuan Pendidikan Raudlatul Athfal dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan yaitu Pendidikan yang mengarah kepada Tujuan Satuan Pendidikan itu sendiri.
D. Prinsip - prinsip Pengembangan KTSP
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansi setiap kelompok atau satuan pendidikan dibawah koordinasi dan supervisi Kantor Kementerian Agama Kab/Kota. Perkembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kelulusan (SKL), serta berpedoman pada penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP serta memperhatikan pertimbangan Komite Raudlatul Athfal.
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan penerima didik dan lingkungannya. Pengembangan kurikulum diubahsuaikan dengan potensi penerima didik yang berbeda – beda, oleh lantaran itu proses pembelajarannya dilaksanakan secara individual, kelompok dan klasikal.
Bahan asuh dikemas dengan memakai kedekatan dengan tematik yang sanggup menyebarkan seluruh potensi dan aspek perkembangan anak usia dini menurut kebutuhan penerima didik serta tuntutan dilingkungan Raudhatul Athfal.
2. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik penerima didik, kondisi tempat dengan menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, dan etika istiadat serta status sosial ekonomi dan gender . Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lkal dan pengembangan diri yang dilaksanakan dengan memakai pembelajaran yang terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan menyenangkan
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pngetahuan, tekhnologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh lantaran itu semangat dan isi kurikulum mendorong penerima didik untuk mengenal dan sanggup memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan para pemerhati pendidikan(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup. Oleh lantaran itu pengembangan kurikulum menurut kecakapan hidup atau life skill,dengan memperhatikan pengembangan integritas pribadi,kemandirian,keterampilan berfikir (thinking skill), kecerdasan spiritual, emosional, sosial, musical, kinestetik,dan natural
5. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum meliputi keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan bidang pengembangan yang direncanakan , disajikan secara terpadu dan berkesinambungan
6. Belajar Sepanjang hayat Kurikulum di arahkan pada proses pengembangan , pembudayaan dan penberdayaan penerima didik yang berlangsung sepanjang hayat. Hal ini ditanam kan semenjak dini biar penerima didik bahagia mencar ilmu sepanjang hayat, lantaran kondisi dan tuntunan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan insan seutuhnya
7. Seimbang antara kepentingan global, nasional dan lokal. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kpentingan global, nasional dan local untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan kurun globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Republik Indonesia (NKRI)
E. Acuan Operasional Penyusunan KTSP
Operasional penyusunan KTSP Raudlatul Athfal berpedoman pada :
1. Peningkatan Iman dan Taqwa serta etika mulia. Keimanan dan ketaqwaan serta etika mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian penerima didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua bidang pengembangan sanggup menunjang penigkatan dogma dan taqwa serta etika mulia.
2. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan penerima didik. Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kinestetik penerima didik secara optimal sesuai dengan tingkat pengembangan.
3. Keragaman potensi dan karateristik tempat dan lingkungan. Daerah mempunyai keragaman potensi kebutuhan, tantangan dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh lantaran itu kurikulum Raudlatul Athfal memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan out put yang sanggup menunjukkan kontribusi bagi pengembangan daerah
4. Tuntutan pengembangan tempat dan nasional. Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan tempat dan nasional.
5. Tuntutan dunia Kerja. Memuat kecakapan perihal hidup (Life skill) untuk mengenalkan dan membekali penerima didik menghadapi kehidupan dunia kerja yang kompetetif dengan melatih dan membiasakan dengan kemandirian, tidak menggantungkan diri pada orang lain.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhonologi dan seni. Kurikulum dikembangkan secara bersiklus dan berkesinambungan sejalan dengan perkembngan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, dengan mengenalkan alat tekhnologi mutakhir kepada penerima didik.
7. Agama Yang menjadi cirri khas kurikulum Raudlatul Athfal yaitu mendalami agama maksudnya pengenalan penerima didik terhadap rukun iman, rukun islam dan berakhlakul karimah lebih mendalam disertai dengan adaptasi dan pengamalan yang diubahsuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan penerima didik.
8. Dinamika perkembangan global. Kurikulum dikembangkan biar penerima didik bisa bersaing secara global dan sanggup hidup berdampingan dengan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai – nilai kebangsaan Mendorong wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10. Kondisi Sosial budaya masyarakat setempat Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat lingkungannya dan menunjang kelestarian budaya.
11. Kesetaraan gender Kurikulum Raudlatul Athfal diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan gender.
12. Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan cirri khas satuan pendidikan.
Jenis Strategi Pembelajaran Umum dan Khusus RA Taman Kanak-kanak PAUD. Ada beberapa jenis seni administrasi pembelajaran umum yang sanggup dipakai di Taman Kanak-kanak. Strategi pembelajaran tersebut pada umumnya lebih menekankan pada acara anak dalam belajar, namun, tidak berarti peranan guru pasif.
Guru harus berperan sebagai fasilitator yang sanggup menunjukkan fasilitas dan kelancaran kepada anak dalam proses belajar. Jenis-jenis seni administrasi pembelajaran umum tersebut adalah:
meningkatkan keterlibatan indra,
mempersiapkan kode lingkungan,
analisis tugas
scaffolding,
praktik terbimbing
undangan / ajakan,
efleksi tingkah laris / tindakan,
efleksi kata-kata,
contoh atau modelling,
penghargaan efektif),
menceritakan/menjelaskan/menginformasikan,
do-it-signal,
tantangan,
pertanyaan, dan
kesenyapan.
Strategi-strategi pembelajaran tersebut sanggup digabungkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, sehingga tercipta kegiatan mencar ilmu yang lebih bervariasi.
1. Strategi Pembelajaran Khusus di Taman Kanak-kanak
Terdapat beberapa jenis seni administrasi pembelajaran khusus yang sanggup diterapkan di Taman Kanak-kanak. Penerapan seni administrasi pembelajaran khusus tersebut pada prinsipnya sama dengan penerapan seni administrasi pembelajaran umum, yaitu harus mempertimbangkan karakteristik tujuan, karakteristik anak dan cara belajarnya, karakteristik daerah yang akan digunakan, dan pola kegiatan.
Jenis seni administrasi pembelajaran khusus tersebut adalah
kegiatan eksploratori,
Penemuan Terbimbing,
Pemecahan Masalah,
Diskusi,
Belajar Kooperatif,
Demonstrasi, dan
Pengajaran Langsung.
Di samping seni administrasi pembelajaran di atas, guru Taman Kanak-kanak dituntut untuk sanggup memakai seni administrasi pembelajaran lainnya sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik.
2. Rasional Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Anak pada hakikatnya mempunyai potensi untuk aktif dan berkembang. Pembelajaran yang berpusat pada anak banyak diwarnai paham konstruktivis yang dimotori Piaget dan Vigotsky. Anak yakni pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Mereka membangun pengetahuannya dikala berinteraksi dengan objek, benda, lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Yang melandasi pembelajaran yang berpusat pada anak yakni pendekatan perkembangan dan pendekatan mencar ilmu aktif.
Belajar aktif merupakan proses dimana anak usia dini mengeksplorasi lingkungan melalui mengamati, meneliti, menyimak, menggerakkan tubuh mereka menyentuh, mencium, meraba dan menciptakan sesuatu terjadi dengan objek-objek di sekitar mereka.
Karakter pembelajaran yang berpusat pada anak
prakarsa kegiatan tumbuh dari minat dan impian anak,
Anak-anak menentukan materi dan tetapkan apa yang ingin ia kerjakan,
Anak mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh indranya, 4) Anak menemukan alasannya yakni akhir melalui pengalaman langsung, 5) Anak mentransformasikan dan menggabungkan bahan-bahan, 6) Anak memakai otot kasarnya, 7) Anak menceritakan pengalamannya.
Prosedur Pembelajaran yang Berpusat pada Anak
Pembelajaran yang berpusat pada anak harus direncanakan dan diupayakan dengan matang. Upaya yang dilakukan yakni dengan merencanakan dan menyediakan bahan/peralatan yang sanggup mendukung perkembangan dan mencar ilmu anak secara komprehensif.
Untuk itu perlu disediakan area-area yang memungkinkan aneka macam kegiatan sesuai pilihannya. Area- area tersebut meliputi:
Area Pasir dan Air.
Area Balok.
Area Rumah dan Bermain Drama.
Area Seni.
Area Manipulatif.
Area Membaca dan menulis.
Area pertukangan atau kerja Kayu.
Area musik dan gerak.
Area komputer.
Area bermain di luar ruangan.
Pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada anak meliputi: tahap perencanaan, tahap bekerja dan tahap melaporkan kembali.
3. Strategi Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu yakni pendekatan yang dipakai dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan ke dalam semua bidang kurikulum atau bidang-bidang pengembangan yang mencakup pengembangan aspek kognitif, bahasa, fisik-motorik, social-emosi, estetika, social, moral, dan agama. Yang menjadi focus dalam pembelajaran terpadu yakni tema.
Pembelajaran terpadu mempunyai karakteristik sebagai berikut: dilakukan melalui kegiatan pengalaman langsung, sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, menunjukkan kesempatan kepada anak untuk memakai semua pemikirannya, memakai bermain sebagai wahana belajar, menghargai perbedaan individu, melibatkan orang renta atau keluarga anak untuk mengoptimalkan pembelajaran.
Prinsp pembelajaran terpadu adalah: berorientasi pada perkembangan anak, kegiatannya dikaitkan dnegan pengalaman konkret anak, materi ajarnya sanggup dieksplorasi oleh anak, mengintegrasikan isi dan proses belajar, melibatkan inovasi aktif, memadukan aneka macam bidang pengembangan, kegiatan mencar ilmu bervariasi, mempunyai potensi untuk dilaksanakan melalui proyek oleh anak, waktu fleksibel, melibatkan anggota keluarga anak, tema sanggup diperluas, dan direvisi seusia dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan anak
Pembelajaran terpadu mempunyai manfaat
meningkatkan perkembangan konsep anak
memungkinkan anak untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui aneka macam kegiatan,
membantu guru dan praktisi lainnya untuk membuatkan kemampuan profesionalnya,
dapat dilaksanakan pada jenjang jadwal yang berbeda, untuk semua tingkat usia, dan untuk bawah umur berkebutuhan khusus.
Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu menuntut guru untuk bekerja secara professional mulai tahap perencanaan, pelaksanaan sampai tahap penilaian. Agar pembelajaran terpadu sanggup mencapai tujuan yang diharapkan guru harus menempuh prosedur-prosedur sebagai berikut.
Memilih tema Memilih tema terpadu sanggup bersumber dari:
minat anak,
peristiwa khusus
kejadian yang tidak diduga
materi yang dimandatkan oleh lembaga,
orang renta dan guru.
Kriteria pemilihan tema adalah;
relevansi topic dengan anak,
pengalaman langsung,
keragaman dan keseimbangan dalam area kurikulum,
ketersediaan alat-alat,
potensi proyek
Penjabaran tema Tema yang sudah dipilih harus dijabarkan ke dalam sub tema dan konsep-konsep yang di dalamnya terkandung istilah, fakta dan prinsip, kemudian jabarkan kedalam, bidang-bidang pengembangan dan kegiatan mencar ilmu yang lebih operasional.
Perencanaan Perencanaan harus dibentuk secara tertulis sehingga memudahkan guru untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus ditempuh. Tentukan tujuan pembelajaran, kegiatan belajar, waktu, pengorganisasian anak, sumber rujukan, alat-alat permainan yang diperlukan, dan penilaian yang akan dilakukan
Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan lakukan dan kembangkanlah kegiatan mencar ilmu sesuai dengan planning yang telah disusun. Lakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang ditunjukkan anak
Penilaian Penilaian dilakukan pada pelaksanaan dan tamat kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk mengamati proses dan kemajuan yang dicapai anak melalui kegiatan pembelajaran terpadu
Penerapan Stratgei Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu sebagai salah satu pendekatan pembelajaran sanggup diterapkan di forum pendidikan anak usia dini pada umumnya dan Taman Kanak-kanak pada khususnya. Penerapan seni administrasi pembelajaran tersebut terutama harus didasarkan pada pertimbangan karakteristik-karakteristik anak dan tujuan pembelajaran.
Agar penerapan seni administrasi pembelajaran terpadu berlangsung secara efektif maka harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan konsep dasar seni administrasi pembelajarn terpadu. Stratgei pembelajaran terpadu ditempuh melalui langkah-langkah :
memilih tema,
mengembangkan tema ke dalam sub tema dan konsep,
mengembagkan tema ke dalam bidang-bidang pengembangan dan kegiatan mencar ilmu yang operasional,
Apa yang anda ketahui perihal PAUD? Kenapa harus ada PAUD? Apa prinsip-prinsip dalam PAUD? mungkin itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul di pikiran kita alasannya pendidikan anak usia dini (PAUD) dulu belum ada. Karena itulah Prinsip pembelajaran dan jenis perkembangan PAUD,
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yakni pendidikan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak (usia + 0 – 8 tahun) sehingga terbentuk kepribadian anak yang sehat jasmani-rohani (shalih-shalihah)
Pendidikan usia dini merupakan masa emas (golden age) yang menjadi fondasi bagi tumbuh kembang seseorang di masa dewasa. Anak yang pada masa usia dininya menerima rangsangan yang cukup dalam membuatkan kedua belah otaknya akan memperoleh kesiapan yang menyeluruh untuk berguru sukses pada ketika memasuki SD/MI
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar
Apa makna pertumbuhan dan perkembangan dalam PAUD?
Jenis-jenis perkembangan dasar PAUD Meliputi:
perkembangan Kognitif,
perkembangan Sosial-Emosional,
perkembangan Bahasa,
perkembangan Fisik-Motorik, dan
perkembangan Moral PAUD.
Selanjutnya kita akan membahas sedikit perihal jenis perkembangan PAUD
1.Perkembangan Kognitif
Proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga menghasilkan pengetahuan
Peningkatan kemampuan daya pikir atau kecerdikan untuk memperoleh pengetahuan baru
2. Perkembangan Sosial-Emosional
Proses pembentukan socialself (sikap diri dalam keluarga, dan sekitarnya)
Perolehan kemampuan anak untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan budaya di masyarakatnya
Kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya.
3. Perkembangan Bahasa
Proses interaksi anak dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya
Kemampuan anak untuk mendengar, berbicara, membaca, dan menulis sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungannya
4. Perkembangan Fisik-Motorik
Perkembangan gerakan jasmaniah melalui acara sentra saraf dan otot yang terkoordinasi
perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh
5. Perkembangan Moral
Proses anak mulai menyadari dan mengartikan bahwa sesuatu tingkah laris ada yang baik dan ada yang tidak baik
Sistem kepercayaan, penghargaan, dan ketetapan yang terjadi di bawah sadar perihal tindakan yang benar dan yang salah, dan untuk memastikan anak akan berusaha berbuat sesuai dengan keinginan masyarakat
Pedoman Pengembangan Tema Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. Pembelajaran anak usia dini sanggup dikembangkan dengan memakai tema. Melalui tema pembelajaran, akseptor didik akan lebih gampang mengenal suatu konsep pengetahuan dan sanggup mempelajari sesuatu yang bersifat konkret. Dengan demikian, indikator perkembangan anak sanggup tercapai secara optimal.
Kenyataan di lapangan mengatakan bahwa pendidik PAUD banyak mengalami hambatan dalam menyebarkan tema pembelajaran. Hal ini antara lain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, kreativitas, kepekaan dan keberanian pendidik.
Pendidik PAUD diperlukan sanggup menyebarkan tema sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan tema biar pembelajaran yang dilaksanakan lebih menarik dan mendalam.
Oleh lantaran itu untuk memenuhi kebutuhan tersebut disusunlah "Pedoman Pengembangan Tema dalam Pembelajaran Anak Usia Dini". Pedoman ini diperlukan sanggup menjadi pola bagi pendidik dalam menyebarkan tema di forum PAUD masing-masing. Selengkapnya silahkan lihat pada link dibawah ini:
Prinsip-Prinsip Penyusunan KTSP PAUD Taman Kanak-kanak dan RA. Agar pengembangan kurikulum terfokus, sempurna sasaran dan terkendali, maka para pengembang KTSP PAUD hendaklah memegang dan menjunjung tinggi prinsip yang seharusnya dijalankan.
Prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan KTSP PAUD adalah:
Pembentukan sikap spiritual dan sosial anak
Kurikulum PAUD dirancang untuk membangun sikap spiritual dan sosial bermakna bukan hanya sekedar untuk sanggup menjawab tes-tes, ujian, kuis, atau pengetahuan jangka pendek lainnya. Sikap spiritual dan sosial dimaksud yaitu sikap yang mencerminkan sikap beragama, hidup sehat, rasa ingin tahu, berpikir dan bersikap kreatif, percaya diri, disiplin, mandiri, peduli, bisa bekerja sama, bisa menyesuaikan diri, santun dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru di lingkungan rumah, kawasan bermain, dan satuan PAUD.
Mempertimbangkan tahapan tumbuh kembang anak, potensi, minat, dan karakteristik anak
Kurikulum menempatkan anak sebagai sentra tujuan. Kurikulum yang disusun memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan tingkat usia anak (age appropriateness), dan selaras dengan potensi, minat, dan karakteristik anak sebagai kekhasan perkembangan individu anak (individual appropriateness).
Holistik-Integratif
Komponen kurikulum yang disusun meliputi keseluruhan ranah perkembangan (holistik) dalam Kompetensi Dasar yang dimuat dalam Panduan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Integratif dimaksudkan yaitu segala upaya yang dilakukan dengan memakai langkah terpadu, baik pada upaya pemenuhan layanan pedagogis, layanan kesehatan, layanan gizi maupun layanan perlindungan. Layanan pedagogis berfokus pada stimulasi perkembangan anak terutama pada stimulasi perkembangan mental-intelektual dan social-emosional, layanan kesehatan dan gizi terutama ditujukan untuk membantu pertumbuhan anak, sedangkan layanan proteksi ditujukan semoga tumbuh-kembang lebih optimal yaitu dengan cara proteksi kondisi dan lingkungan nyaman (savety) dan kondusif (security), yaitu yang bebas dari kecemasan, tekanan dan rasa takut.
Dilaksanakan dengan cara berguru melalui bermain
Kurikulum disusun untuk membuka kesempatan berguru anak membangun pengalamannya dalam proses transmisi, transaksi, dan transformasi keterampilan, nilai-nilai, dan karakterdi bawah bimbingan pendidik. Proses penerapan Kurikulum bersifat aktif dimana anak terlibat pribadi dalam kegiatan bermain yang menyenangkan, memakai ide-ide gres yang diperoleh dari pengalaman untuk berguru pengambilan keputusan dan pemecahan dilema sederhana.
Mempertimbangkan kebutuhan anak termasuk anak berkebutuhan khusus
Kurikulum PAUD bersifat inklusif dengan mengakomodir kebutuhan dan perbedaan anak baik dari aspek jenis kelamin, sosial, budaya, agama, fisik, maupun psikhis. Sehingga semua anak terfasilitasi sesuai dengan potensi masing-masing tanpa ada diskriminasi aspek apapun.
Berkesinambungan perkembangan anak dari usia lahir sampai 6 tahun
Kurikulum disusun dengan memperhatikan kesinambungan secara vertikal (antara tujuan pendidikan nasional, tujuan lembaga, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran), dan kesinambungan horizontal (antara tahap perkembangan anak: dari bayi, batita, balita, dan prasekolah merupakan rangkaian yang saling berkesinambungan).
Memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Penyusunan kurikulum mengadopsi dan memanfaatkan perkembangan keilmuan dan teknologi untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sepanjang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, nilai moral, aksara yang ingin dibangun, dan seni budaya Indonesia.
Memperhatikan sosial budaya
Kurikulum disusun dengan memasukkan lingkungan fisik dan budaya ke dalam proses pembelajaran untuk membangun kesesuaian antara pengalaman yang sudah dimiliki anak dengan pengalaman gres untuk membentuk konsep gres wacana lingkungan dan norma-norma komunitas di dalamnya. Lingkungan sosial dan budaya berperan tidak sebagai obyek dalam kurikulum tetapi sebagai sumber pembelajaran bagi anak usia dini.
Kali ini akan mengulas wacana Prinsip Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, sebab hal ini sangat penting untuk meningkatkan kwalitas pembelajaran pada anak usia dini.
Anak mencar ilmu banyak dari media dan alat yang digunakannnya ketika bermain. Karena itu media mencar ilmu bukan hanya yang sudah jadi berasal dari pabrikan, tetapi juga segala materi yang ada di sekitar anak, contohnya daun, tanah, batu-batuan, tanaman, dan sebagainya. Penggunaan aneka macam media dan sumber mencar ilmu dimaksudkan biar anak sanggup bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya. Anak yang terbiasa memakai alam dan lingkungan sekitar untuk belajar, akan berkembang lebih peka terhadap kesadaran untuk memelihara lingkungan.
Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang paling diminati anak. Saat bermain anak melatih otot besar dan kecil, melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan, melatih cara mengatasi masalah, mengelola emosi, bersosialisasi, mengenal matematika, sain, dan banyak hal lainnya.
Bermain bagi anak juga sebagai pelepasan energi, rekreasi, dan emosi. Dalam keadaan yang nyaman semua syaraf otak dalam keadaan rileks sehingga memudahkan menyerap aneka macam pengetahuan dan membangun pengalaman positif.
Kegiatan pembelajaran melalui bermain mempersiapkan anak menjadi anak yang bahagia belajar.
Anak sebagai sentra pembelajaran. Seluruh kegiatan pembelajaran di rencanakan dan dilaksanakan untuk berbagi potensi anak. Dilakukan dengan memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan cara berpikir dan perkembangan kognitif anak. Pembelajaran PAUD bukan berorientasi pada impian lembaga/guru/orang tua.
Stimulasi Terpadu
Anak mempunyai aspek moral, sosial, emosional, fisik, kognitif, bahasa, dan seni. Kebutuhan anak juga meliputi kesehatan, kenyamanan, pengasuhan, gizi, pendidikan, dan perlindungan. Pendidikan Anak Usia Dini memandang anak sebagai individu utuh, balasannya aktivitas layanan PAUD dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Untuk memenuhi stimulasi yang menyeluruh dan terpadu, maka penyelenggaraan PAUD harus berhubungan dengan layanan kesehatan, gizi, dan pendidikan orang tua. Dengan kata lain layanan PAUD Holistik Integratif menjadi keharusan yang dipenuhi dalam layanan PAUD.
Berorientasi pada Perkembangan Anak
Setiap anak mempunyai kecepatan dan irama perkembangan yang berbeda, namun demikian pada umumnya mempunyai tahapan perkembangan yang sama. Pembelajaran PAUD, pendidik perlu menawarkan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, dan memberi derma sesuai dengan perkembangan masing-masing anak. Untuk itulah pentingnya pendidik memahami tahapan perkembangan anak.
Lingkungan Kondusif
Lingkungan yaitu guru ketiga bagi anak. Anak mencar ilmu kebersihan, kemandirian, aturan, dan banyak hal dari lingkungan bermain atau ruangan yang tertata dengan baik, bersih, nyaman, terang, aman, dan ramah untuk anak.
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar ruangan.
Penataan ruang mencar ilmu harus diubahsuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga anak sanggup berinteraksi dengan gampang baik dengan pendidik maupun dengan temannya.
Lingkungan mencar ilmu hendaknya tidak memisahkan anak dari nilai-nilai budayanya, yaitu tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di rumah dan di sekolah ataupun di lingkungan sekitar.
Menggunakan Pendekatan Tematik
Kegiatan pembelajaran dirancang dengan memakai pendekatan tematik.
Tema sebagai wadah mengenalkan aneka macam konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan sanggup dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.
Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran. Selengkapnya silahkan simak artikel Peningkatan mutu pendidikan dengan pakem
Pedoman Dasar Operasional Penyusunan KTSP PAUD. Setiap satuan PAUD mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membuatkan kurikulum di satuannya secara berdikari atau keleluasaan pengembangan kurikulum dalam bentuk KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan mengacu kurikulum nasional sebagai kurikulum minimal.
Ketersediaan kurikulum pada suatu satuan pendidikan merupakan suatu keharusan, alasannya kurikulum merupakan jantung dari terselenggaranya seluruh acara pendidikan atau pembelajaran di suatu satuan pendidikan. Kurikulum merupakan alat untuk membantu pendidik dan seluruh komponen satuan pendidikan dalam melaksanakan tugasnya serta memperlancar keseluruhan proses pembelajaran yang diselenggarakan.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan termasuk satuan pendidikan anak usia dini. Yang terdiri dari:
Prinsip-Prinsip Penyusunan KTSP PAUD
Prosedur Operasional Pengembangan KTSP
Contoh Dokumen I dan II
Format Penyusunan Visi, Misi, dan Tujuan Satuan PAUD
Mengingat begitu penting dan besarnya kegunaan kurikulum, maka pengembangan kurikulum untuk satuan pendidikan anak usia dini harus dilakukan dengan hati-hati, cermat dan penuh bertanggung jawab. Satuan pendidikan PAUD menangani penerima didik pada kelompok usia potensial yang sekaligus sebagai usia kritis, yaitu usia emas (golden ages).
Maka pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum pendidikan anak usia dini harus merupakan orang-orang yang betul-betul peduli, menyayangi dan bersedia sepenuh hati dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Sehingga keinginan pembangunan pendidikan anak usia dini Indonesia, yaitu mengantarkan generasi yang cerdas komprehenship secara sedikit demi sedikit dan simultan sanggup diwujudkan.
Untuk itu perlu disusun pedoman penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan PAUD atau KTSP PAUD sebagai teladan para pendidik, pengelola, penyelenggara dalam membuatkan kurikulum yang efektif dalam menfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraaan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Kegiatan pembelajaran sanggup dilakukan di lingkungan forum dan luar forum dalam wujud penyediaan bermacam-macam pengalaman berguru untuk semua siswa PAUD RA atau TK. Kegiatan pembelajaran sebagai suatu proses harus disusun menurut prinsip aktivitas berguru mengajar TK.
Kegiatan pembelajaran dirancang mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran, baik terkait dengan keleluasaan bahan/materi, pengalaman belajar, daerah dan waktu belajar, alat/sumber belajar, bentuk pengorganisasian kelas dan cara penilaian. Dalam aktivitas pembelajaran PAUD, Pendidik perlu menunjukkan dorongan dan santunan kepada akseptor didik untuk mengungkapkan kemampuannya dalam membangun gagasan.
Pendidik berperan sebagai fasilitator dan bertanggung jawab untuk membuat situasi yang sanggup menumbuhkan prakarsa, motivasi dan tanggung jawab akseptor didik untuk belajar. Di samping itu dalam mengelola aktivitas pembelajaran, pendidik hendaknya bisa berbagi teladan interaksi dengan banyak sekali pihak yang terlibat di dalam pembelajaran dan harus bakir memotivasi akseptor didik untuk terbuka, kreatif, responsif, dan interaktif dalam aktivitas pembelajaran.
Kualitas pembelajaran sanggup diukur dan ditentukan oleh sejauh mana aktivitas pembelajaran tertentu sanggup menjadi alat perubah sikap akseptor didik ke arah yang sesuai dengan tujuan kompetensi yang telah ditetapkan.
Oleh alasannya itu, pendidik PAUD dibutuhkan bisa merancang, berbagi dan melakukan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik, kebutuhan dan perkembangan akseptor didik. Untuk membantu kemampuan Pendidik PAUD dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, maka perlu membagikan pedoman penyusunan pembelajaran yang bisa anda unduh pada link dibawah ini:
Dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini pembentukan sikap dilaksanakan melalui penyesuaian yang melebur dalam acara pengembangan. Program pengembangan dalam kurikulum 2013 pendidikan anak usia dini mencakup:
Dalam penerapannya Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini menuntut adanya perubahan contoh pikir usang ke contoh pikir baru. Pola pikir yang menganggap bahwa guru sebagai satu-satunya sumber belajar, harus segera ditinggalkan, alasannya lingkungan dan ilmu pengetahuan serta teknologi sebagai kunci pembuka sumber berguru yang sangat luas. Dengan demikian kelas bukanlah satu-satunya kawasan berguru bagia anak usia dini. Belajar dilakukan dengan kegiatan aktif dimana anak melaksanakan banyak hal untuk mendapat pengalaman melalui proses saintifik.
Pengembangan nilai agama dan moral meliputi perwujudan suasana berguru untuk tumbuh-kembangnya sikap baik yang bersumber dari nilai agama dan adab dalam konteks bermain.
Pengembangan motorik meliputi perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya kematangan kinestetik dalam konteks bermain.
Pengembangan kognitif meliputi perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya kematangan proses berfikir dalam konteks bermain.
Pengembangan bahasa meliputi perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya kematangan bahasa dalam konteks bermain.
Pengembangan sosial-emosional meliputi perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya sikap dan keterampilan sosial dalam konteks bermain.
Pengembangan seni meliputi perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya apresiasi seni dalam konteks bermain.
Kurikulum 2013 PAUD dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
mengupayakan keseimbangan antara pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan tahapan perkembangan anak;
menjadikan satuan PAUD sebagai bab dari masyarakat yang memperlihatkan pengalaman berguru terjadwal dimana penerima didik menerapkan apa yang dipelajari di satuan PAUD ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan pada anak yang dilakukan dengan kegiatan belajar melalui bermain;
memberi waktu yang cukup leluasa untuk menyebarkan aneka macam sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
mengembangkan rencana acara pengembangan untuk mencapai Standar Kesiapan Belajar Anak (KBA) melalui pencapaian Kompetensi Inti yang dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar dan Indikator Perkembangan;
Standar Kesiapan Belajar Anak yaitu kriteria mengenai kemampuan anak sesudah mengikuti PAUD yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan;
Kompetensi Inti merupakan operasionalisasi dari Kesiapan Belajar Anak dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki anak dengan aneka macam kegiatan pembelajaran melalui bermain yang dilakukan di satuan PAUD. Kualitas tersebut berisi citra mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
Kompetensi Dasar dikembangkan menurut pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar acara pengembangan.d)Indikator perkembangan merupakan penanda perkembangan yang lebih spesifik dan terukur pada satu acara pengembangan untuk memantau/menilai perkembangan anak.
Kali ini akan membagikan file perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) Pendidikan anak usia dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), atau Raudlatul Athfal (RA).
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) merupakan planning kegiatan yang disusun untuk pembelajaran selama satu minggu. Perencanaan kegiatan mingguan sanggup berbentuk jaringan tema. Jaringan tema berisi projek- projek yang akan dikembangkan menjadi kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Pada selesai satu atau beberapa tema sanggup dilaksanakan kegiatan puncak tema yang menunjukkan prestasi akseptor didik. Puncak tema sanggup berupa kegiatan antara lain menciptakan kue/makanan, makan bersama, festival hasil karya, pertunjukan, panen tanaman, dan kunjungan.
Cara Penyusunan RPPM:
Diturunkan dari program
Berisi sub tema - KD - bahan - planning kegiatan
Penyusunan kegiatan mingguan diubahsuaikan dengan taktik pengelolaan kelas (area, sentra, kelompok usia) yang ditetapkan masing-masing satuan PAUD.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan
Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH) ialah perencanaan aktivitas harian yang akan dilaksanakan oleh pendidik/pengasuh pada setiap hari atau sesuai dengan aktivitas lembaga. Komponen RPPH, antara lain: tema/sub tema/sub-sub tema, alokasi waktu, hari/tanggal, kegiatan pembukaan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Cara Penyusunan RPPH:
Disusun menurut kegiatan mingguan.
Kegiatan harian berisi kegiatan pembuka, inti, dan penutup.
Penyusunan kegiatan harian diubahsuaikan dengan kondisi satuan pendidikan masing-masing dan memakai pendekatan saintifik.
Kegiatan harian sanggup dibentuk oleh satuan pendidikan dengan format sesuai kebutuhan masing-masing.
Hanya itu sekilas beberapa poin wacana Program Mingguan dan Harian RPPM RPPH PAUD Taman Kanak-kanak RA Kurikulum 2013 yang sanggup anda download pada link berikut ini:
Sebelumnya sudah dibagikan kumpulan aplikasi sekolah Gratis, kali ini juga akan membagikan Kumpulan File Lengkap Aplikasi, Perangkat Metode Belajar, BOP PAUD Taman Kanak-kanak RA kepada sahabat semua. Saya kumpulkan dalam satu artikel banyak sekali aplikasi, metode dan perangkat berguru dan pembelajaran anak usia dini, kurikulum PAUD, Taman Kanak-kanak dan RA.
Semuanya mencakup; macam-macam metode dan seni administrasi pembelajaran anak usia dini, teknik pembelajarn PAUD, aplikasi data siswa, penyusunan kurikulum, RPPM/RPPH, promes prota, SPJ BOP, dan masih banyak lagi.
Download File Lengkap Aplikasi, Perangkat dan Metode Belajar, BOP PAUD Taman Kanak-kanak RA
Selengkapnya dapat anda download pada link berikut ini:
Demikian artikel membuatkan dari perihal Kumpulan File Lengkap Aplikasi, Perangkat Metode Belajar, BOP PAUD Taman Kanak-kanak RA. Untuk selengkapnya dapat anda kunjungi halaman ini.
Semoga dapat membantu dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Amin...
Motivasi merupakan faktor yang berarti dalam pencapaian prestasi belajar. Dua pembangkit motivasi berguru yang efektif yakni keingintahuan dan keyakinan akan kemampuan diri. Setiap penerima didik mempunyai rasa ingin tahu. Guru perlu menyalurkan dengan cara antara lain mengajukan pertanyaan di luar kebiasaan.
Keyakinan akan kemampuan diri sanggup ditumbuhkan dengan yara menunjukkan kiprah yang sanggup mereka selesaikan. Guru perlu menunjukkan penguatan bahwa mereka niscaya bisa.
1. Kebermaknaan
Peserta didik akan termotivasi untuk berguru kalau acara dan materi berguru dirasa bermakna bagi dirinya. Kebermaknaan lazimnya terkait dengan bakat, minat, pengetahuan dan tata nilai penerima didik.
2. Pengetahuan dan keterampilan prasyarat
Peserta didik akan sanggup berguru dengan baik kalau beliau telah menguasai semua prasyarat baik berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Oleh sebab itu, penerima didik akan memakai pengetahuan awalnya untuk menafsirkan info dan pengalamannya. Penafsiran itu akan membangun pemahaman yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. Dengan demikian, guru perlu memahami pengetahuan awal penerima didik untuk dikaitkan dengan materi yang akan dipelajarinya sehingga menciptakan berguru menjadi lebih bermakna.
3. Model
Peserta didik akan menguasai keterampilan gres dengan baik kalau guru memberi referensi sebagai model untuk dilihat dan ditiru.
4. Komunikasi terbuka
Peserta didik akan termotivasi untuk berguru kalau penyampaian dilakukan secara terstruktur. sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif penerima didik sehingga pesan pembelajaran sanggup dievaluasi dengan tepat.
5. Keaslian dan kiprah yang menantang
Peserta didik akan termotivasi untuk berguru kalau mereka disediakan materi, acara gres atau gagasan mumi/asli (novelty) dan berbeda. Kebaruan atau keaslian gagasan akan menambah konsenfrasi mereka pada pelajaran. Hal ini besar lengan berkuasa pada pencapaian hasil belajar. Konsentrasi juga sanggup bertambah bila mereka menghadapi kiprah yang menantang dan sedikit melebihi -kemampuannya. Sebaliknya bila kiprah terlalu jauh dari akan terjadi kecemasan, dan bila kiprah kurang dari kemanu)uannyaakan terjadi kebosanan.
6. Latihan yang sempurna dan aktif
Peserta didik akan sanggup menguasai materi pembelajaran dengan efektif kalau KBM menunjukkan acara latihan yang sesuai dengan kemampuan, dan mereka sanggup berperan aktif untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
7. Penilaian tugas
Peserta didik akan memperoleh pencapaian berguru yang efektif kalau kiprah dibagi dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang dengan frekuensi pengulangan yang tinggi.
8. Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan
Peserta didik akan berguru dan terus belajar, kalau kondisi berguru dibentuk menyenangkan, nyaman dan jauh dari sikap yang menyakitkan perasaan mereka. Belajar melibatkan perasaan. Suasana berguru yang menyenangkan akan diharapkan sebab otak tidak akan bekerja optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Perasaan bahagia biasanya akan muncul bila berguru diwujudkan dalam bentuk permainan, khususnya pada pendidikan usia dini. Selanjutnya bermain sanggup dikembangkan men-jadi eksperimental yang lebih tinggi.
9. Keragaman Pendekatan
Peserta didik akan berguru kalau mereka diberi kesempatan untuk menentukan dan memakai aneka macam pendekatan dan sfrategi belajar. Pengalaman berguru tidak hanya berorientasi pada buku teks, tetapi juga sanggup dikemas dalam aneka macam acara mudah menyerupai proyek, simulasi, drama, dan/atau penelitian, atau pengujian.
10. Mengembangkan bermacam-macam kemampuan
Peserta didik akan sanggup berguru secara optimal kalau pengalaman berguru yang disajikan sanggup berbagi berbagai. kemampuan menyerupai kemampuan logis, matematis, bahasa, musik, gerak tubuh (kinestetik) dan kemampuan inter maupun intra personal. Tiap penerima didik mempunyai lebih dari satu kecerdasan yang mencakup kecerdasan: musik, gerak tubuh (kinestetik), logika-matematika, bahasa, ruang, intra pribadi, danantar pribadi. Sekolah perlu menyediakan aneka macam pengalaman berguru yang memungkinkan kecerdasan itu berkembang; sehingga anak dengan aneka macam kecerdasan yang berbeda sanggup terlayani secara optimal.
11. Melibatkan sebanyak mungkin indera
Peserta didik akanv menguasai hasil berguru dengan optimal kalau dalam belajai dimungkinkan memakai sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan isi pembelajaran.
12. Keseimbangan pengafuran pengalaman belajar
Peserta didik akan menguasai materi pembelajaran kalau pengalaman berguru diatur sedemikian rupa sehingga mereka mempunyai suatu refleksi penghayatan, kesempatan untuk menciptakan mengungkapkan, dan mengevaluasi apa yang beliau pelajari. Pengalaman berguru hendaknya juga menyediakan proporsi yang seimbang antara proteksi info dan penyajian terapannya.
Memikirkan ulang (refleksi) apa yang sedang dipikirkan. atau apa yang sedang dikerjakan menpakan acara penting dalam memantapkan pemahaman. Proses pikir ulang ini akan terjadi bila pemahaman yang dihasilkan dikomunikasikan dan ditanggapi dengan wujud diskusi (interaksi).
Refleksi sanggup juga terjadi bila guru sering mengajukan pertanyaan seperti: "Mengapa kau beropini menyerupai itu?" Mengingat berguru yakni proses membangun pemahaman mereka, maka mereka perlu diberi waktu yang memadai untuk melakukanproses itu. Artinya, berikan waktu yang cukup untuk berpikir saat mereka menghadapi masalah. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk berguru artinya menunjukkan kesempatan untuk membangun sendiri gagasannya.
Pengertian Manfaat dan Tujuan Media Pembelajaran Siswa PAUD Taman Kanak-kanak RA. Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap orang untuk menunjang kehidupan didunia dan alam abadi sebagaimana tertuang dalam al-Quran dan Hadits. Sehingga pendidikan menjadi hal utama untuk membentuk aksara insan semenjak usia dini. Dengan bergulirnya waktu, maka dunia pendidikan dituntut harus lebih kreatif, inovatif dan menyenangkan.
Maka pelaku pendidikan harus bisa memakai aneka macam cara, media dan metode pembelajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk mencapainya. Karena itu, sedikit mengulas wacana prinsip, pengertian, jenis-jenis, ciri-ciri, tujuan, dan manfaat penggunaan media pembelajaran untuk jenjang PAUD Taman Kanak-kanak dan RA.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Bagian Ketujuh Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 28
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini sanggup diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Permendiknas No.58 tahun 2009 wacana Standar Pendidikan Anak Usia Dini
Gagne (1970) mengartikan aneka macam jenis komponen dalam lingkungan siswa yang sanggup merangsang siswa untuk belajar.(1970) mengartikan media ialah sebagai alat yang dipergunakan untuk memperlihatkan perangsang bagi siswa biar proses mencar ilmu terjadi.
Media / Alat Peraga ialah Segala sesuatu yang sanggup dipakai sebagai sarana atau peralatan untuk pembelajaran yang mengandung nilai edukatif (Pendidikan) dan sanggup membuatkan seluruh kemampuan anak
Difungsikan untuk membuatkan aneka macam aspek perkembangan anak RA
Dapat dipakai aneka macam cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan aspek pengembangan atau bermanfaat multiguna
Aman atau tidak berbahaya bagi anak
Dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas anak
Bersifat Konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan
Mengandung nilai pendidikan
Tujuan Media / Alat Peraga
Memperjelas materi yang diberikan
Memberikan motivasi dan merancang anak untuk bereksplorasi dalam mengembangkan
berbagai aspek perkembangan
Memberikan kesenangan pada anak dalam bermain
Fungsi Media / Alat Peraga
Menciptakan situasi bermain (belajar) yang menyenagkan bagi anak
Memudahkan obyek /materi
Menumbuhkan rasa ingin tahu
Memberikan stimulus dalam pembentukan sikap dan pengembangan kemampuan dasar
Memberikan kesempatan anak bereksplorasi, berkomunikasi dengan teman sebaya
Alat penilaian biar segala kegiatan mencar ilmu mengajar yang telah dilaksanaka sanggup dilakukan penilaian kemampuan siswa dalam merespon pembelajaran dengan media.
Syarat Pembuatan media / alat Peraga
Syarat Edukatif bahwa pembuatan media harus diadaptasi dengan kegiatan pendidikan yang berlaku dan diadaptasi dengan Didaktik Metodik (Membantu keberhasilan kegiatan pendidikan, mendorong aktifitas dan kreatifitas anak yang diadaptasi dengan kemampuan anak)
Mengapa memakai media
Mengajar lebih gampang dan menyenangkan”
untuk mendukung pembelajaran di kelas
mengajar lebih gampang dan menyenangkan
Siswa lebih gampang memahami materi pelajaran
Tercapai tujuan pembelajaran sebagai alat bantu untuk memudahkan guru dalam proses pembelajaran di kelas
Penggunaan Media
Digunakan oleh Guru dalam pembelajaran secara klasikal (classroom learning)
Bertujuan menghadirkan pengalaman visual sehingga materi sanggup dipahami secara kongkrit
Dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan dan petunjuk teknis kegiatan serta materi atau media penyerta
Strategi Pemanfaatan
terintegrasi dalam pembelajaran di kelas
Guru menciptakan skenario pembelajaran yang akan diajarkan kepada penerima didik (membuat RPP)
Guru menyiapkan materi atau media penyerta Guru menyiapkan komputer (notebook) yang tersambung dengan LCD Projector di dalam kelas (jika diperlukan)
Guru memulai pembelajaran di kelas
Ketika ada klarifikasi materi yang membutuhkan media visual, Guru membuka file yang berisi media (baik gambar, animasi/simulasi atau video, dll)
Guru memberi klarifikasi detail secara verbal melengkapi klarifikasi media visual yang ditampilkan
Diskusi
Menjawab pertanyaan lisan
Mengerjakan lembar kerja anak dan games
Menyimpulkan materi
Memberikan penugasan
Demikian saja ulasan wacana Pengertian Manfaat dan Tujuan Media Pembelajaran Siswa PAUD Taman Kanak-kanak RA. Jika masih kurang, silahkan baca beberapa artikel blog ini. Semoga bermanfaat...